Usir Insecure Dengan Melebur - Menjalani kuliah S3 setiap pekannya memberikan suatu semangat tersendiri bagi kami sekelas khususnya saya. Perkuliahan dijadwalkan prodi diadakan setiap hari Jumat dan Sabtu. Mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.
Kuliah diadakan secara tatap maya atau virtual meeting dengan platform Zoom yang difasilitasi PDIH (Program Doktor Ilmu Hukum). Tantangannya menyesuaikan jam dengan jam supersibuknya para profesor adalah jam kuliah. Kadang pas sesuai roster, kadang meleset, bahkan tidak masuk.
Ada yang menggeser jam jadi pukul 14.00 WIB, ke pukul 17.00 WIB hingga di sesi terakhir jam sembilan malam. Alhamdulillah suami dan anak-anak saya bisa memahami kondisi ini.
Mereka memberikan waktu untuk saya, dengan kesibukan terus menerus menatap layar monitor laptop, suatu waktu terdengar mengajukan pertanyaan pada sang profesor, di lain waktu menjawab pertanyaan profesor dan teman-teman.
|
Zoom kelas S3 Ilmu Hukum angkatan 2021 / dokpri |
Teman Dari Berbagai Latar Belakang Profesi
Kuliah S3 Hukum sudah pasti teman-temannya gabungan antara akademisi hukum dengan praktisi hukum. Ada dosen Fakultas Hukum seperti saya, advokat/penasehat hukum/pengacara/kuasa hukum/lawyer, jaksa, hakim, dan notaris.
Kami semua disatukan dalam satu kelas bernama S3
Hukum Universitas Sumatera Utara, salah satu PTN favorit di luar Jawa, khususnya di Pulau Sumatra.
Apakah saya insecure, sebenarnya ada sedikit rasa itu. Saya yang 18 tahun lalu gagal ujian CPNS Cakim (Calon Hakim) Peradilan Umum, pernah juga berniat mengikuti seleksi ujian Kejaksaan RI, kini berinteraksi dengan teman-teman berlatar belakang profesi yang saya gagal meraihnya.
Kendati demikian sebelum masuk kelas S3 ini pun saya sudah berhubungan dengan teman-teman praktisi ini. Riset saya pada tahun 2019 melibatkan para praktisi, seperti hakim, dan jaksa. Rekan-rekan S2 11 tahun yang lalu juga terdiri dari hakim dan jaksa, bedanya mereka dulu hakim dan jaksa baru masuk atau baru lulus di profesinya masing-masing.
Kalau sekarang, di kelas S3, ada Kejari (Kepala Kejaksaan Negeri) suatu daerah turut menjadi mahasiswa S3 bareng saya, Asisten Intel Kejaksaan Tinggi, hakim di suatu Pengadilan Negeri, advokat, Ketua INI (Ikatan Notaris Indonesia) Provinsi, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) kota, Kanitreskrim Polresta, anggota KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) Provinsi, Kabid. Pembinaan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (PKPA) Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Kemenkeu Provinsi, ada 2 orang dosen PTN itu sendiri dan dosen-dosen PTS di kota saya.
Semuanya 28 orang, ditakdirkan jadi satu kelas dengan niat, maksud, dan tujuan yang sama, mencapai gelar akademik tertinggi, doktor. Kalau jabatan akademik tertinggi namanya profesor.
Usir Insecure dengan Melebur
Insecure adalah perasaan tidak percaya diri, merasa minder dan kalah dari orang lain. Penyebabnya bisa karena pola asuh keluarga, sering disalahkan, dianggap tidak becus dalam melakukan sesuatu, hingga karena terlampau bersikap perfeksionis.
Jika dikontekstualisasikan ke perkuliahan S3 saya saat ini. Alhamdulillah so far seiring berjalannya waktu sedikit rasa insecure itu berangsur-angsur hilang bagaikan titik air menetes di padang tandus. Mengapa saya sedikit banyak bisa dikatakan telah mampu mengusir insecure yang di awal-awal masa studi sempat menghampiri?
Berikut Alasannya:
1. Saya sendiri sudah bisa disebut
dosen yang bukan junior lagi, dikategorikan dosen tua juga belum sih, masih 40 pas. Namun kalau disebut dosen muda sudah tidak bisa lagi. Bukan karena usia semata, tetapi karena jabatan fungsional sudah berada di Lektor, dengan pangkat golongan ruang, Penata Tingkat I (III/d).
Kalau di kepolisian saya berada di posisi perwira menengah dengan pangkat kolonel. Harusnya saya sudah naik ke pangkat Pembina IV/a setara dengan Komisaris Besar Polisi. Pangkat Lektor saya peroleh sejak 2011 lalu, wah sudah lama ya.
2. Kami semuanya melebur satu sama lain. Dengan menundukkan diri jadi mahasiswa lagi di jenjang S3 ini, meninggalkan pangkat dan jabatan di luar kampus. Sehebat apapun di luar sana, ketika jadi calon doktor, harus mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan prodi.
Kami semua kembali menjadi orang-orang bodoh yang haus ilmu pengetahuan khususnya keilmuan di bidang hukum. Sapaannya pun "abang" dan "kakak" tidak ada pak bos, bu kepala, pak ketua, bu dosen, dan bu hakim.
|
Saat menyimak kuliah Prof. Hikmahanto Juwana dari FH UI |
Tak heran ada anggapan, ketika kuliah lagi orang-orang akan kembali menjadi muda. Karena jadi merasa belum ada apa-apanya dibandingkan dengan keilmuan para profesor yang mengajar.
3. Saya proaktif mengambil peran. Ketika pada tolak-tolakan amanah menjadi bendahara kelas, dan ada yang menunjuk saya, bismillah saya terima. Dengan membantu ketua dan sekretaris kelas, saya merasa berkontribusi dan update terus dengan kondisi perkuliahan.
Semester 2 ini kami dikelompokkan ke kelas-kelas sesuai topik disertasi. Saya dan 12 teman lainnya masuk ke Kelas Hukum Perdata-Bisnis. Lagi-lagi teman-teman mendapuk saya menjadi ketua kelas mereka. Jadilah saya rangkap jabatan, bendahara kelas besar, dan ketua kelas Hukum Perdata-Bisnis.
Bismillah semoga bisa menjadi amal jariyah yang bisa mempermudah tercapainya gelar doktor saya nanti. Aamiin yra.
Kesimpulan
Demikian sharing saya mengenai usir insecure dengan melebur bersama teman-teman. Insecure akan hilang karena dengan mengedepankan perasaan setara dengan rekan-rekan lainnya. Sama-sama mahasiswa, sama-sama penuntut ilmu, yang tengah memperjuangkan gelar doktor.
Bersyukur sekali bisa menikmati perkuliahan hingga ke jenjang S3 ini. Diajar oleh dosen-dosen profesor yang sudah malang melintang di bidangnya masing-masing, berpengalaman dan punya jam terbang riset dan keilmuan.
Oya, PTN tempat saya kuliah juga mendatangkan dosen dari PTN lainnya seperti dari UI, UNPAD, UGM, dan UNAND. Nah, saya tidak sabar menunggu profesor yang mengajar dari UGM, kampus S1 saya dulu. Mudah-mudahan bisa menyerap ilmu dari beliau dan berefek pada kemajuan proposal disertasi.
Salam pejuang doktor!
Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak, karena komentar Anda menjadi jejak digital di dunia maya